-->
LOVE Ver 7.0 & Married Ver 9.0 oleh Darwis Tere Liye

LOVE Ver 7.0 & Married Ver 9.0 oleh Darwis Tere Liye

MMSPH 13: LOVE Ver 7.0 & Married Ver 9.0

by Darwis Tere Liye on Saturday, September 10, 2011 at 7:37am

LOVE Ver 7.0 & MARRIED Ver 9.0

Catatan: Anda sebaiknya sudah membaca Cintanometer dalam MMsPH 2

Di kota kami, walau terletak persis di tengah-tengah gurun pasir maha luas, hujan bukanlah barang langka. Jika penduduk kota ingin merasakan hujan, maka tinggal bilang ke balai kota. Seperti kemarin, anak tetangga sebelah rumah, rindu berat berlari-lari di atas gelimang lumpur, di bawah atap langit yang mencurahkan beribu-ribu bulir air kesegaran. Maka orang tuanya segera memesan hujan. Selang dua belas menit kemudian awan hitam datang berarak, guntur dan petir sambar menyambar, tak lama turunlah hujan sesuai pesanan.

Jangan salah sangka dulu, kota kami memang terpencil jauh dari seluruh penjuru dunia, tetapi bukan berarti penduduk kota kami lebih primitif dibandingkan kalian. Kami tidak memanggil hujan lewat dukun-dukun, nyanyian-nyanyian, apalagi sesembahan tak berguna itu, sebaliknya kami memanggil hujan dengan teknologi tingkat tinggi. Maju sekali, malah jauh lebih maju dibandingkan dengan menerbangkan pesawat untuk menaburkan butiran pembuat hujan di awan-awan yang biasa ilmuwan kalian lakukan.

Di sini banyak penemu. Yang terhebat di seluruh dunia, malah. Jadi jangankan soal hujan, soal rumit lainnya, seperti mobil terbang, rumah mengapung, lampu tenaga udara, pil anti lapar, suntikan seribu-penyakit dan yang lebih sulit lainnya ada di sini. Dengan berbagai penemuan hebat itu, kehidupan berjalan amat baik dan berkecukupan.

Tetapi suatu hari, dewan kota mendadak mengadakan pertemuan. Benar-benar ada hal super-penting yang telah terjadi, karena rapat ini adalah rapat mendadak untuk kedua kalinya dalam lima ratus tahun terakhir.

Para tetua risau sekali tentang sesuatu. Tentang mengapa angka pertumbuhan penduduk kota ini stagnan, bahkan dua tahun belakangan justeru minus sekian persen. Jika trend pertumbuhan penduduk tetap seperti itu, dikhawatirkan seratus hingga dua ratus tahun mendatang, penduduk kota ini akan musnah.

Lama berdebat akhirnya ditemukan-lah muasal permasalahan. Yaitu karena angka pernikahan anak-anak muda turun amat tajam. Kenapa angka pernikahan anak-anak muda turun tajam? Karena mereka terlalu takut menyatakan cinta? Cemas ditolak mentah-mentah? Dipermalukan? Takut sakit hati? Ah, itu masalah lama, masalah yang keciiil. Sudah lewat sepuluh tahun para ahli di kota kami memecahkan masalah tersebut dengan cintanometer. Alat yang dianugerahi 100 Years of Great Discovery!

Kenapa angka pernikahan tetap turun padahal sudah ada Cintanometer? Alat yang membuat kalian dengan mudah bisa mengenali pasangan yang sedang mencintai kalian? Tetua ramai berdebat, saling menyelak. Ternyata penyebabnya adalah gaya-hidup anak muda jaman sekarang. Hari ini, apa mau dikata mereka adalah generasi yang terlalu sibuk. Berangkat pagi-pagi, pulang malam hari. Bekerja tanpa lelah 60 hingga 70 jam per minggu. Benar-benar pekerja keras. Tak banyak lagi waktu yang tersisa untuk pacaran, apalagi untuk menikah.

Jadi meskipun cintanometer mereka yang trendi tersangkut di kuping berkedip-kedip menandakan ada calon pasangan yang jatuh-cinta ke mereka radius dua puluh meter, anak muda kota kami malas sekali menanggapinya. Mereka sudah terlanjur disibukkan memikirkan tumpukan berkas kerja di meja siang ini, janji meeting di gedung manalah, schedule rapat dengan siapalah. Aduh! Pacaran itu hanya membuang waktu. Tidak ada gunanya. Non-value added activity. Ada janji karir dan masa depan cemerlang yang sedang mereka kejar. Pacaran itu jelas hanya untuk pengangguran, atau pekerja kelas rendahan.

Celaka! Tetua kota kami sekarang benar-benar geleng kepala. Kalau begini terus situasinya, kota kami yang hebat akan menghadapi masalah serius. Tanpa adanya keluarga baru, tanpa adanya bayi-bayi yang dilahirkan jumlah penduduk kota turun drastis. Buat apa mereka punya teknologi terhebat di dunia jika tak ada anak-cucu yang mewarisi? Rusuh tetua kota berdebat mencari solusi. Mereka berebut mempresentasikan penemuan-penemuan canggih untuk mengatasi masalah ini. Bagaimana agar anak-muda itu tetap bisa pacaran dan kemudian menikah dengan segala keterbatasan waktu mereka.

Akhirnya, menjelang malam solusinya disepakati. Benar-benar hebat. Solusi yang dahsyat. Soal penemuan canggih dan membuat geleng-kepala kota kami memang tak terkalahkan. Tetua kota mengumumkan akan mengembangkan software yang akan dinamai: Love ver 7.0. Seluruh penduduk kota yang sepanjang hari takjim menyimak perdebatan di balai kota ramai bertepuk-tangan. Menakjubkan! Sungguh solusi yang praktis, efisien, dan khas kota kami yang ultra-modern.

Apa itu Love ver 7.0? Ah, aku juga tidak tahu persis seperti apa (sama waktu aku dulu bingung menjelaskan apa itu Cintanometer!), tapi untuk lebih mudah memahaminya kalian bayangkan saja software games. Kalian pasti pernah memainkan salah-satu game komputer, bukan? Seperti Warcraft, Grand Theft Auto, The Sims, Winning Eleven, NBA, Championship Manager, atau yang paling simpel seperti Tetris, Minesweeper, Solitaire, Pinball, dan games kartu semacamnyalah. Nah, seperti itulah Love ver 7.0.

Bedanya, software ini amat powerfull. Super-canggih. Sempurna sudah menjadi foto-copy kehidupan dunia nyata anak-muda di kota kami. Cara kerjanya? Begini, pertama-tama dibuatlah server raksasa di tengah kota, lantas setiap komputer yang dimiliki anak-muda kota kami dihubungkan ke server tersebut. Mereka akan memasukkan data pribadi ke dalam permainan. Lengkap. Mulai dari bentuk fisik, seperti jumlah rambut alis mata, jumlah rambut di betis, ukuran (maaf) tubuh tertentu, dan tentu saja termasuk urusan tinggi, berat badan, dan warna kulit. Malah data fisik pribadi itu termasuk DNA, tipe kromosom, siklus hormonal, kadar pheromon, getar arus listrik, dan ampun aku sungguh tidak mengerti lagi. Pokoknya semua data fisik mereka.

Selain itu dimasukkan juga data non-fisik mereka. Seperti tipe cewek atau cowok yang mereka idamkan, karakter psikilogis, tingkat kecerdasan, preferensi, bahkan juga termasuk tingkat kecemasan, keragu-raguan, agresivitas dan sebagainya. Seluruh informasi ini langsung di-foto-copy dari otak dan seluruh tubuh yang menyimpan data tersebut, jadi mustahil keliru, dan selalu di-update setiap hari secara otomatis.

Nah, setelah semua data anak-muda di kota kami telah di upload ke dalam sistem Love ver 7.0 maka dimulailah games hebat tersebut. Anak-muda itu tidak perlu memainkannya, tidak perlu menekan tombol mouse atau menggerakkan stick. Tidak perlu ada di depan komputer masing-masing. Semua itu tidak perlu. Apa yang kubilang tadi? Love ver 7.0 sempurna foto-copy kehidupan anak-muda kota kami. Jadi karakter-karakter dalam games itulah yang bermain. Karakter-karakter itu sempurna seperti menjalani kehidupan yang sama dengan yang aslinya, tetapi terjadi di dunia maya. Di dalam komputer. Mirip benar dengan apa yang terjadi paralel di dunia nyata. Tugas karakter foto-copy di Love ver 7.0 hanya satu, mencari jodoh!

Wow, maka kalau kalian berkesempatan berkunjung ke pusat server Love ver 7.0 di kota kami, maka kalian akan melihat tadi pagi ManoWolvie yang sedang menggoda Laila di perempatan jalan utama. Atau Filean yang sedang malu-malu mengirimkan surat cinta ke Jesheila di depan balai kota. Kalian sempurna bisa menonton seluruh adegan romantis tersebut. Yang tentu saja ManoWolvie, Laila, Filean atau Jesheila yang asli sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing di kantor. Malah boleh jadi yang aslinya sedang bertengkar karena urusan bisnis dan pekerjaan.

Di malam hari, anak-muda kota kami bisa melihat progress pacaran mereka di dalam komputer masing-masing. Bukan main, mereka bisa melihat kisah percintaan mereka hari ini sambil ngemil sekantong kentang goreng. Karena karakter dalam games tersebut sempurna ter-foto-copy, maka seluruh adegan romantis dalam Love ver 7.0 benar adanya. Itulah yang akan terjadi di dunia nyata kalau anak-muda kami punya waktu melakukannya. Games itu bertindak 99,99% persis seperti kehidupan nyatanya. Tidak mungkin salah-lagi.

Maka sebulan setelah games tersebut dikeluarkan, angka pacaran di kota kami melesat berkali-kali lipat. Kehidupan romantisme penuh bunga indah dan kata memesona tumbuh bak jamur di musim hujan. Tidak di dunia nyata memang, tapi ada di dalam server Love ver 7.0. Peduli apa? Itu sama saja dengan di dunia nyata. Itulah gunanya teknologi.

Saat anak-muda kota kami merasa progress percintaan mereka di games tersebut sudah di level 9. Ah-ya Love ver 7.0 juga disertai data statistik yang menunjukkan seberapa dekat tingkat keintiman mereka, kalau sudah di level 9 itu berarti level tertinggi, dan mereka bisa memutuskan untuk bertatap muka langsung dengan pasangan virtual masing-masing. Saat itulah, progress hubungan berkembang dan diambil-alih oleh karakter dunia nyatanya.

Seperti hari ini, ManoWolvie bertemu dengan Laila di Kafe Z di dekat perempatan utama kota.

“Kau hari ini cantik sekali,” Mano tersenyum memuji.

“Ah, bukankah kau sudah berkali-kali mengatakan itu?” Laila tersipu malu. Menatap Mano dengan mesra.

Bukankah mereka baru pertama kali ini bertemu? Bagaimana mungkin Laila bilang Mano sudah berkali-kali mengatakan itu? Ya, di dalam Love ver 7.0, yang mereka tonton selepas pulang kerja. Di sana percintaan Mano-Laila romantis benar. Penuh kejadian mengesankan. Tetapi kalau mengatakan kalimat itu secara langsung, Mano baru hari ini melakukannya.

Maka ManoWolvie-Laila akan mengenang bersama hari-hari yang mereka lalui dulu, tertawa bahak membicarakan Mano yang memerah mukanya saat bilang cinta enam bulan silam, Laila yang terjatuh di danau kota saat bercengkerama, Mano yang menumpahkan jus-jeruk di kencan mereka yang kesekian, dan seterusnya, dan seterusnya. Benar-benar seperti nyata, benar-benar seperti mereka melalui sendiri kejadian tersebut.

Lantas pembicaraan tatap-muka pacaran level 9 itu akan di akhiri dengan kalimat hebat, “Maukah kau menikahiku?” dari Mano yang sekarang berlutut menyerahkan cincin permata ke Laila penuh pengharapan.

Laila tersipu malu, mukanya memerah, kemudian mengangguk pelan. Ah, mereka sudah pacaran lebih dari enam bulan. Level mereka sudah 9, jadi sudah saatnya menikah. Melanjutkan ke level 10. Mano sungguh pilihan yang sempurna. Komputer bilang begitu. Tingkat kesesuaian mereka 99,99%. Jodoh sejati. Bayangkan dalam sekejap mereka langsung jatuh-cinta (pada pandangan pertama dalam software hebat tersebut). Mereka juga sudah pacaran dengan mesranya selama ini. Maka Laila malu-malu menjulurkan tangannya. Mano memasangkan cincin permata.

Mereka resmi bertunangan.

Bukan main. Hebat! Tetua kota kami ramai bersulang setahun kemudian. Pesta besar digelar di balai kota. Love ver 7.0 sukses luar-biasa. Cintanometer? Lupakan alat primitif itu! Sekarang mereka memasuki era baru, ketika ada dua dunia yang berjalan secara paralel sekaligus. Kehidupan nyata yang sibuk, dengan kehidupan indah di dalam sistem komputer. Mereka bisa memadukannya dengan baik. Benar-benar temuan yang meningkatkan produktivitas kerja. Buat apa lagi pacaran secara fisik jika Love ver 7.0 bisa melakukannya berkali-kali lebih baik. Toh, tingkat kegagalan pernikahan setelah melalui pacaran di dalam sistem hanya 0,001% saja?

Ditambah bonus, semua data pacaran mereka tersimpan rapi di komputer pribadi masing-masing. Mana ada coba orang yang pacaran di dunia memiliki rekaman komplit seluruh waktu kebersamaan indah mereka? Ah, masalah krisis kependudukan kota kami dengan cepat segera terselesaikan.

Beres! Bukan main.

***

Celaka, berbeda halnya dengan Cintanometer yang tidak bisa dijahili, dirusak, atau bahasa kerennya di-hack. Software Love ver 7.0 ternyata dengan mudah bisa dimodifikasi oleh hacker-hacker jahil kota kami.

Awalnya mereka hanyalah pemuda-pemuda yang sejak Cintanometer dulu keluar tetap tak-kunjung jua mendapatkan jodoh. Cintanometer mereka dulu tidak berkedip sekalipun. Nah, sekarang saat Love ver 7.0 launching, karakter maya mereka di dalam komputer tetap tidak mendapatkan jodoh. Aduh, semakin keki-lah mereka. Siapa pula coba yang hanya bisa menonton kosong, menatap cemburu adegan cinta seluruh anak-muda kota kami yang sungguh romantis? Sedangkan dia sendiri, baik di dunia nyata maupun maya tetap tak laku-laku jua. Aduh, kasihan sekali melihat mereka!

Maka gerombolan anak-muda yang tidak kunjung laku itu mulai mengirimkan virus untuk meng-hack sistem Love ver 7.0. Mereka diam-diam mulai mengembangkan modifikasi canggih, mengotak-atik server raksasa kota. Dua tahun berlalu, dan celakanya mereka berhasil. Benar-benar berhasil menembus sistem sekuriti Love ver 7.0. Apa yang terjadi kemudian? Sungguh tidak ada yang pernah bisa membayangkan Gerrard yang jelek jerawatan bisa pacaran dengan Jasmine, kembang kota kami yang super cantik itu.

Apa daya Jasmine? Sistem itu bilang kalau ia harus pacaran dengan Gerrard, kan? Kesalahannya hanya 0,001%, kan? Maka terjadilah kekacauan di seluruh kota. Benar-benar semuanya terbolak-balik. Karena hacker kota kami amat jahilnya juga merubah data pribadi pesaing-pesaing cintanya selama ini. Menguranginya, menjelek-jelekkannya. Lantas menambah data pribadi miliknya sendiri. Benar-benar tidak lucu lagi kehidupan paralel dunia-maya kota kami tersebut enam bulan kemudian.

Beruntung sebelum Gerrard dan Jasmine tiba di level 9, yang artinya mereka harus bertemu secara fisik dan menikah, tetua kota berhasil menemukan anti-virus super. Yang dengan cepat memberangus habis, worm, brontok, trojan, malware, parasite, dan apalah namanya itu. Aduh, betapa sakit hatinya Gerrard saat sistem itu di-install ulang. Saat malamnya dia sibuk menunggu dengan hati berdebar-debar apakah kisah-cinta dunia maya-nya sudah level 9, ternyata karakter dirinya kembali ke data aslinya. Jelek-jerawatan, cowok yang nggak pernah laku-laku. Hiks!

Meranalah nasib Gerrard dan hacker lainnya. Tapi siapa yang peduli dengan mereka? Anak-muda dan tetua kota lebih peduli memperhatikan percintaan hebat di dalam games yang bahkan ditambahkan banyak fitur baru tersebut. Maka selepas serangan hacker atas Love ver 7.0 tersebut, games tersebut bisa dibilang sempurna. Masih ada memang satu-dua upaya cheating, satu-dua yang mencoba mematikan genset server, satu-dua yang mencoba merusak hard-disk data, tapi sisanya oke. Perfect, malah!

Penemu kota kami belakangan juga meluncurkan alat-kendali versi mini. Persis seperti iPOD atau HP di jaman batu kalian. Dengan alat itu, anak muda kota kami tidak perlu lagi membuka komputer saat pulang kerja, mereka bisa menyimak langsung nasib percintaan dunia-maya mereka kapan saja, di mana saja, dan sedang ngapain aja. Alat itu portable dan trendi. Ditambah fitur upload data terkini dari mereka. Sekarang, Love ver 7.0 sempurna sudah.

Jadi bisa segera dimaklumi ketika seluruh penduduk kota mengusulkan: Love ver 7.0 harus dinobatkan sebagai 100 Years of Great Discovery! Menggantikan alat-cinta Cintanometer yang sudah basi itu. Ini baru sesungguhnya penemuan canggih!

***

Tetapi tahukah kalian? Saat Love ver 7.0 diluncurkan dua tahun silam, salah satu tetua kota kami yang dari dulu terkenal bijak dan berhati-hati atas segala penemuan, dengan suara lemah putus asa berbicara, “Kita tidak seharusnya menemukan alat ini, tidak seharusnya….” Mencoba menarik perhatian tetua lainnya yang sibuk berdebat.

“Tidak seperti cintanometer dulu, alat ini akan membawa kita memasuki jaman yang benar-benar ganjil! Cinta urusan langit, jadi bagaimana mungkin kita sekarang seperti Tuhan? Membuatkan skenarionya? Membuatkan kisah-cintanya? Tidak peduli sehebat dan senyata apapun skenario tersebut!”

Tetapi siapa yang peduli dengan tetua kota itu? Tidak ada. Apalagi setelah tahun demi tahun berlalu. Games itu terbukti efektif menyelesaikan masalah tidak ada waktu untuk pacaran bagi anak-muda tersebut. Games itu jawaban yang hebat. Hei, ingat, dulu juga tetua ini ribut soal Cintanometer. Omong-kosong, kecemasannya berlebihan. Tidak ada bahayanya teknologi tersebut.

Sayang, ternyata tetua kota itu benar!

Hanya soal waktu ketika akhirnya masalah tidak punya waktu tersebut berkembang menjadi sesuatu yang lebih serius. Bertahun-tahun berlalu, hari ini, anak muda kota kami bukan soal pacaran saja tidak punya waktu, mereka ternyata juga tidak punya waktu untuk menikah. Mereka benar-benar sibuk. Amat keterlaluan sibuknya. Bekerja 70-80 jam per minggu. Malam pun mereka kerja. Dibekukan oleh janji dunia. Janji karir dan kehormatan materi. Jadi meski Love ver 7.0 mengambil-alih kehidupan cinta mereka, meski sudah berbulan-bulan hubungan cinta itu menyentuh level 9, mereka malaaas sekali untuk bertemu secara fisik dan melanjutkan hubungan ke level berikutnya, gerbang pernikahan.

Buat apa? Mereka lebih mementingkan pekerjaan. Berkeluarga hanya menghabiskan waktu. Tidak terbayangkan harus jam sekian sudah tiba di rumah, memeluk istri, mencium keningnya, besoknya harus bangun pagi bersama, menyiapkan sarapan, bicara satu-sama lain penuh basa-basi, harus berlibur bersama, dan seterusnya, dan seterusnya…. Aduh, mereka tidak punya waktu untuk melakukan itu semua. Sungguh semua itu tidak produktif.

Maka tetua kota kami kembali rusuh bersidang. Sibuk berdebat. Sibuk mengacungkan tangan untuk menjelaskan solusi yang diusulkan. Benar-benar tidak ada yang memperhatikan tetua kota kami yang sedari dulu sudah prihatin. Tidak ada. Semua ini harus dipecahkan dengan teknologi yang lebih hebat. Menjelang malam, solusi yang disepakati akhirnya ditemukan. Benar-benar luar-biasa.

Apa yang akan dilakukan tetua kota kami? Mereka akan mengembangkan software tambahan. Games lanjutan dari Love ver 7.0 tersebut. Sistem yang jauh lebih sophisticated, yang akan memasukkan seluruh varian dalam kehidupan nyata. Yang akan menyelesaikan masalah level 9 yang tidak pernah berlanjut di dunia nyata tersebut. Software tambahan itu disebut dengan Married ver 9.0.

Wah! Wah! Wah! Seperti apa bentuknya? Ramai penduduk kota bertanya. Dengan wajah antusias. Aku sekali lagi bingung menjelaskannya kepada kalian. Pokoknya, persis seperti Love ver 7.0. Bedanya sekarang anak-muda kami memiliki fitur untuk melakukan pernikahan virtual di dalam sistem tersebut. Lengkap dengan ruangan resepsinya. Pengiring pengantin. Live music. Akomodasi. Bulan madu. Bahkan doa-doa spesial yang bisa di-setting sesuai aslinya di dunia nyata. Wow!

Lihatlah foto di meja Esterina, itu foto pernikahannya di Barbados dua minggu lalu. Benar-benar pesta pernikahan yang mewah dan ramai. Seluruh kota hadir. Padahal persis di jam yang sama pernikahan tersebut dilangsungkan, Esterina sedang sibuk berdiskusi tentang sistem perbankan kota di kantornya.

Lihatlah! Bahagia sekali pernikahan Esterina dengan Gading enam bulan terakhir! Mereka mesra saling memeluk sebelum berangkat kerja. Bercengkerama setiap malam. Saling menelepon setiap satu jam. Berlibur ke Swan Lake setiap dua bulan. Memiliki rumah kecil yang indah. Benar-benar pasangan yang hebat. Meski semua itu hanya ada di dunia maya-nya.

Di dunia nyata? Esterina dan Gading bahkan serumah pun tidak. Tapi peduli apa? Itu benar-benar akan terjadi kalau mereka punya waktu untuk melakukannya. Sistem komputer itu sungguh foto-copy yang sempurna. Sama sajalah apakah karakter dalam Married ver 9.0 atau mereka di dunia nyata yang melakukannya.

Anak? Kota kami sudah mengembangkan sistem bayi tabung sejak dua ratus tahun silam. Itu bukan masalah besar. Bahkan Esterina tidak perlu mengandung secara langsung, bisa dititipkan dalam sistem medis hebat kota kami. Sepanjang ia dan Gading memutuskan punya anak, maka Rumah-Sakit kota yang seperti pabrik bersiap menerima pembuahan tidak langsung tersebut.

Tetua kota bersulang riang di balai kota. Ini benar-benar masa keemasan penemu di kota kami. Semua anak-muda akhirnya sempat pacaran, sempat menikah meski dengan segala kesibukan yang mereka miliki. Anak-anak kecil banyak dilahirkan, dibesarkan oleh sistem adopsi teknologi yang hebat. Krisis kependudukan itu benar-benar sudah lewat.

Lupakan saja soal kosa-kata cinta yang sejak Cintanometer ditemukan dulu sudah dihapus dari kamus. Lupakan itu semua. Bahkan mereka sudah melupakan bagaimana sensasi membelai lembut pipi pasangan mereka, menatap mesra wajah pasangan mereka, mencium keningnya.

Mereka sempurna lupa bagaimana sesungguhnya proses percintaan tersebut? Bagaimana rasanya kebersamaan di Taman Kota, kebersamaan di Danau Kota. Mereka hanya menonton seluruh adegan itu sekarang! Menyimak, tanpa pernah terlibat melakukannya. Mereka benar-benar kehilangan sensasi menunggu sang belahan-hati, rasa cemas menanti jawaban sang pujaan, tersipu malu atas pujian, resah atas kalimat yang salah ucap, antusiasme menatap wajahnya, merasa terlindungi bersandar di bahu bidangnya, dan entahlah.

Mereka sudah lupa!

Apalagi kalau ditanya soal sakit-hati? Bagaimana rasanya ditolak? Bagaimana rasanya ditinggalkan begitu saja? Lupa! Lagipula itu semua tidak penting. Kalau ada yang bertanya apa itu pacaran, tinggal jalankan sistem Love ver 7.0. Kalau ada yang bertanya soal bagaimana rasanya menikah, tinggal jalankan sistem Married ver 9.0. Semuanya lengkap ada di sana. Kalian bahkan bisa menyimak seluruh prosesnya.

Maka aku benar-benar muak saat untuk kedua kalinya berkunjung ke kota itu seminggu lalu. Kali ini aku benar-benar termangu di tengah pesta yang diadakan oleh tetua di balai kota. Aku menjulurkan tangan, “Namaku Jun, pemuda dari negeri seberang, ingin mencari pacar seorang gadis yang baik hati dan cantik. Adakah gadis seperti itu di sini?” Mereka memandangku laksana melihat mahkluk dari planet terbodoh yang pernah ada.

Ya ampun, dengan hati bingung aku memutuskan pulang. Sungguh, aku lebih baik patah-hati seribu kali, tersakiti berjuta-juta kali, merana bermilyar-milyar kali karena keabadian jombloku dari pada harus menjalani kehidupan cinta seperti mereka. Rasa sakit hati itu indah. Setidaknya patah-hati memberikan sensasi bahwa kita memang masih hidup. Lagipula siapa bilang ditolak cinta itu tidak indah?

Itu indah, Bung! Pikirkanlah dari sudut yang berbeda!

***
Baca selengkapnya »
Cintanometer oleh  Darwis Tere Liye

Cintanometer oleh Darwis Tere Liye

MMSPH 2: Cintanometer

by Darwis Tere Liye on Friday, September 2, 2011 at 8:52am

Cintanometer

Di kota kami, walau terletak persis di tengahtengah gurun pasir maha luas, hujan bukanlah barang langka. Jika penduduk kota ingin merasakan hujan, maka tinggal bilang ke balai kota. Seperti kemarin, anak tetangga sebelah rumah, rindu berat berlari-lari di atas gelimang lumpur, di bawah atap langit yang mencurahkan beribu-ribu bulir air kesegaran. Maka orang tuanya segera memesan hujan. Selang dua belas menit kemudian, awan hitam datang berarak, guntur dan petir sambar menyambar, tak lama turunlah hujan sesuai pesanan.

Jangan salah sangka dulu, kota kami memang terpencil jauh dari seluruh penjuru dunia, tetapi bukan berarti penduduk kota kami lebih primitif dibandingkan kalian. Kami tidak memanggil hujan lewat dukundukun, nyanyian-nyanyian, apalagi sesembahan tak berguna itu, sebaliknya kami memanggil hujan dengan teknologi tingkat tinggi. Maju sekali, malah jauh lebih maju dibandingkan dengan menerbangkan pesawat untuk menaburkan butiran pembuat hujan di awan-awan yang biasa ilmuwan kalian lakukan.

Di sini banyak penemu. Yang terhebat di seluruh dunia, malah. Jadi jangankan soal hujan, soal rumit lainnya, seperti mobil terbang, rumah mengapung, lampu tenaga udara, pil anti lapar, suntikan seribu penyakit dan yang lebih sulit lainnya ada di sini. Dengan berbagai penemuan hebat itu, kehidupan berjalan amat baik dan berkecukupan.

Tetapi suatu hari, dewan kota mendadak mengadakan pertemuan. Tentu ada hal super penting yang telah terjadi, karena rapat ini adalah rapat mendadak untuk pertama kalinya dalam lima ratus tahun terakhir. Para tetua risau sekali tentang sesuatu. Tentang mengapa angka pertumbuhan penduduk kota ini stagnan, bahkan dua tahun belakangan justeru minus sekian persen. Jika trend pertumbuhan penduduk tetap seperti itu, dikhawatirkan seratus hingga dua ratus tahun mendatang, penduduk kota ini akan musnah.

Lama berdebat akhirnya ditemukanlah muasal permasalahannya. Yaitu karena angka pernikahan anakanak muda turun amat tajam. Kenapa angka pernikahan turun amat tajam? Karena anak-anak muda ternyata susah sekali menemukan jodohnya masing-masing. Kenapa anakanak muda amat susah menemukan jodoh? Karena angka penolakan cinta meningkat tajam. Dan kenapa angka penolakan cinta meningkat tajam? Karena anakanak muda itu terlalu malu untuk mengungkapkan perasaannya. Takut ditolak, takut ditertawakan, takut dihinakan, lebih sial lagi akan dikenang sepanjang masa: sebagai pecundang.

Tetua kota ramai lagi berdebat mencari solusi masalah pelik ini. Bagaimana agar anak-anak muda itu tidak cemas dan takut lagi menyatakan cintanya? Akhirnya setelah berbagai usulan diterima, mulai dari yang sama sekali tidak masuk akal hingga yang malah tidak ada kaitannya sama sekali dengan akar permasalahan, solusi yang dimaksud disepakati.

Dewan kota akan menciptakan alat pendeteksi cinta. Sebut sajalah namanya cintanometer.

Bentuk fisiknya kurang lebih mirip freehand telepon genggam yang kalian kenal selama ini. Dicantolkan di telinga, dan ia dengan kecanggihannya akan memberitahukan perasaan yang sedang dipikirkan oleh lawan jenis di hadapanmu.

Bagaimana caranya? Tidak jelas juga seperti apa. Terlalu rumit untuk dituliskan. Tetapi kurang lebih cintanometer akan mendeteksi gesture tubuh, kadar pheromon, getaran arus listrik yang timbul dari detak jantung pasangan Anda, medan elektromagnetik yang muncul dari sekujur kulitnya, sinyal alpha dari bola matanya, frekuensi dan lamda getaran suara saat pasangan Anda berbicara dan berbagai pemicu kimiawi lainnya yang terus terang aku juga tidak terlalu mengerti.

Dengan cintanometer itu, anak-anak muda tak usah malu lagi menyatakan cinta. Alat ini seratus persen akan menjamin kalkulasi variabel yang ditangkapnya benarbenar nyata. Deviasi kesalahannya kecil sekali, sehingga kalian tak usah lagi khawatir ditolak mentahmentah.

Mendengar kabar tentang cintanometer, penduduk kota kami dilingkupi kegairahan yang luar biasa. Mereka belomba-lomba mencari tahu sejauh mana kemajuan ilmuwan terbaik mereka menciptakan alat pendeteksi cinta tersebut. Tak sabar lagi mereka menunggu hari H peredarannya di toko-toko kelontong. Malah di tengah-tengah kota dipasang penghitung waktu mundur (countdown) menunjukkan sisa hari peluncurannya.

***

Dan ketika tiba hari H peluncuran cintanometer itu, kota kami heboh sekali. Inilah penemuan terbesar sepanjang masa. Muda-mudi berdiri mengantri membentuk kelokan puluhan kilometer di depan balai kota untuk mendapatkan alat pendeteksi cinta. Lelaki tua dan wanita tua yang tak laku-laku juga terselip hampir di setiap dua-tiga pengantri. Orang-orang tua yang sudah menikah pun ternyata ikut mengantri. Juga anak-anak di bawah umur.

Rusuh sekali antrian itu. Saling menyelak. Jangan pernah kalian meleng sedikit saja, alamat tempat berdiri sudah diisi oleh tiga-empat orang yang tak dikenal. Semakin lama kerusuhan dalam antrian semakin meluas. Masalahnya ternyata pembagian alat tersebut agak sedikit terganggu karena baru saja tetua kota menyadari mereka sama sekali belum melakukan analisis dampak lingkungan atas cintanometer ini. Tak ada yang pernah berpikir hal ihwal yang akan terjadi akibat beredar bebasnya alat ini, apalagi lihatlah batasan umur para pengantri di depan sana.

Semakin siang antrian semakin kusut. Maka tetua kota tak ada pilihan lain kecuali mulai membagikan cintanometer itu. Lupakan dulu soal analisis dampak lingkungan tersebut. Yang penting antrian penduduk kota tidak berubah menjadi anarki.

Mereka berebut menyambar kotak-kotak kecil itu. Untunglah tak ada satu pun warga kota yang mengantri menginginkan benda tersebut yang tidak kebagian. Lepas senja semuanya bisa pulang dengan senyuman lega. Berharap banyak atas benda kecil tersebut.

Tetapi, wahai, tahukah kalian apa yang terjadi sekejap setelah itu?

***

Kota kami tiba-tiba berubah menjadi lautan cinta. Lihatlah anak-anak muda, mereka seolah-olah sedang berlomba-lomba menyatakan cintanya. Di sepanjang jalan-jalan, di taman-taman kota, di kafekafe, di pelataran parkir dan pertokoan, di ruangruang kelas, di atas mobil-mobil dan gerbong kereta, di dalam lift dan toilet, hingga di altar-altar suci rumah ibadah yang seharusnya hanya dipakai untuk berdoa.

“Clarice, aku cinta padamu?” seru seorang pemuda dari salah satu meja, di kafe tengah kota.

“Aku sudah tahu, Leonardo!” gadis itu juga berteriak sambil memperlihatkan alat itu di telinganya. Mereka berdua tertawa. Juga tertawa bersamaan dengan seluruh isi kafe lainnya. Anakanak muda yang dimabuk asmara. Bersemu merah saling menggenggam tangan.

“Patrice, andai kau meminta bulan, tentu tak sungkan aku berikan....”

“Sudahlah, Desovov….” dan gadis di meja satunya lagi itu melompat menyeberangi piring-piring.

Sungguh. Padahal kemarin, kemarinnya lagi, minggu-minggu lalu, dan sepanjang hari selama setahun terakhir ini gadis itu hanya mampu berdiri menatap pemuda pujaannya lewat begitu saja di gang bawah sana dari balik teralis jendela. Terlalu gentar untuk mengakui. Terlalu takut untuk menyatakan cintanya.

Kemanapun kau pergi malam itu, maka yang akan kau dapati hanyalah anak-anak muda dengan trendi mengenakan cintanometer di telinganya, berjalan kesana-kemari coba menemukan pasangannya. Saat alat di telinga mereka berkedip-kedip, mereka berseru kegirangan. Itu berarti ada seseorang yang mencintainya radius seratus meter darinya.

Apa yang terjadi kemudian? Tergantung. Jika pasangan yang ditunjukkan oleh cintanometer itu ternyata tampan dan memang pujaan jantungnya selama ini, maka tak sungkan ia menggamit tangannya, menatap tersenyum dengan muka bersemu merah. Tetapi jika ternyata pasangan yang ditunjukkan oleh cintanometer itu ternyata jelek dan malah sosok yang dibencinya selama ini, maka dengan terbirit-birit ia akan lari menjauh.

Amat beruntung seorang pemuda atau gadis yang berkali-kali cintanometernya berkedip-kedip. Itu berarti ada banyak pilihan baginya untuk menyatakan cinta. Dan di tengah-tengah keramaian cinta ini, ironisnya, ada saja pecinta yang tidak sedikit pun cintanometernya berkedip-kedip.

Awalnya mereka tidak terlalu panik. Mungkin alat miliknya rusak atau baterainya habis. Mereka buru-buru mencoba meminjam alat pendeteksi cinta milik temannya, berharap nasib akan berubah. Percuma. Semua alat yang dikeluarkan oleh balai kota selalu dalam kondisi seratus dua belas persen oke.

Maka tinggallah mereka merana menjadi penonton pertunjukan cinta di kota kami. Tetapi siapa peduli dengan orang-orang yang tidak beruntung itu? Jumlah mereka sedikit. Dan bukankah dengan demikian, alat pendeteksi cinta itu membantu seleksi genetik kota kami. Pemuda atau gadis yang tak pernah dicintai oleh seseorang maka sudah sepatutnyalah tidak meneruskan keturunan genetiknya, demikian kesimpulan tetua kota.

Mendengar laporan meningkatnya angka jatuh cinta anak-anak muda di kota kami, tetua kota tersenyum lega. Permasalahan besar itu nampaknya teratasi sudah. Mereka bersulang di balai kota, berseru bersama memuji kepintaran para penemu. Tanpa sedikit pun menyadari laporan itu ternyata belum lengkap benar. Karena pelahan-lahan muncullah berbagai masalah akibat cintanometer itu.

***

Vyrzas, lelaki baya berumur enam puluh tahun, duduk menangis di pojokan kota sambil mengelus kepala botaknya penuh penyesalan. Dengan alat itu, barusan ia tahu bahwa sesungguhnya semenjak empat puluh tahun silam hingga hari ini, Veronica, kembang kampus universitas kota kami, ternyata amat mencintainya. Ah, mengapa alat ini baru diciptakan sekarang? Sesalnya. Lihatlah, wanita tua itu sudah beranakpinak dengan pria lain. Ia dulu ternyata terlalu naif menganggap dirinya jelek, bodoh dan sama sekali tidak berguna bila dibandingkan dengan gadis itu yang amat cantik, pintar dan populer.

Tetapi kesedihan Vyrzas bukan masalah serius bagi tetua kota saat ini. Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Toh itu murni kesalahan Vyrzas. Yang lebih penting dan mendesak, lihatlah berbagai pertengkaran yang segera menyeruak di rumah-rumah penduduk.

“Aku tak menyangka hatimu busuk selama ini!” Nenek itu berseru kencang dari salah satu rumah.

“Apa maksudmu?”

“Lihat ini!” Ia berseru sambil memperlihatkan telinganya. Kakek itu tersumpal mulutnya.

“Pokoknya aku tidak mau lagi melihat mukamu di rumah ini. Pergi! Pergi bajingan!” Nenek itu menangis dalam marah. Ia tidak menyangka pemuda yang dinikahinya enam puluh tahun silam ternyata sedikit pun tidak mencintainya. Jangankan berkedip, mendesing pun tidak cintanometer di telinganya. Ternyata suaminya menikahinya semata-mata karena kedudukan dan harta orang tuanya.

Segeralah berbagai borok suami terbongkar. Berbagai aib istri terbuka lebar-lebar. Banyak sekali pemuda yang menikahi istrinya hanya karena harta, kekuasaan, atau kecantikan wajah. Dan sebaliknya gadis-gadis yang menikah hanya karena tebalnya kantong suaminya, rumah-rumah, mobil-mobil terbang dan berbagai kemewahan dunia lainnya. Mereka bertengkar hebat malam itu.

Cintanometer benar-benar menelanjangi para pelaku selingkuh. Suami-suami yang tidak cinta lagi melihat tubuh istrinya. Suami-suami yang lebih suka menghabiskan malam-malan di bar-bar kota. Alat itu juga membantu anak-anak yang tak beruntung menerjemahkan perasaan sesungguhnya dari ayah atau ibu tiri mereka. Dengan segera di tengah-tengah lautan cinta yang terjadi di jalanan, harmoni rumahrumah tangga penduduk kota kami satu demi satu rontok.

Tetua kota segera berembug membahasnya. Satu dua tetua kota berkata pelan di tengah keramaian: ia memang dari dulu sudah khawatir sekali dengan alat pendeteksi cinta ini, sudah terlalu banyak penemuan tidak pantas yang telah mereka buat selama ini. Penemuan yang menebas tata aturan kehidupan. Cinta adalah urusan langit dan tidak sepantasnya mereka mencoba mengakalinya.

Tetapi mayoritas tetua kota kami mengabaikan keluhan itu. Jika ada masalah yang muncul dari cintanometer itu maka anggap saja harga yang harus dibayar untuk mengatasi permasalahan pertambahan penduduk kota. Dan bukankah lebih banyak anakanak muda yang akan segera melangsungkan pernikahannya dibandingkan dengan rumah tangga yang hancur berantakan?

Malam itu juga putus. Cintanometer akan terus diedarkan.

***

Hari-hari berlalu menjadi setahun, setahun berjalan dirangkai hari-hari. Siang ini genap lima tahun semenjak penemuan itu pertama kali diluncurkan dulu. Lihatlah apa yang terjadi di kota kami. Bayibayi mungil kelihatan di mana-mana. Jumlah penduduk double. Krisis kepedendudukan itu lewat sudah.

Cintanometer selama lima tahun berturut-turut mendapat penghargaan Penemuan Terbaik Tahun Ini. Setiap tahun fiturnya di tambah, dibuat lebih gaya dengan model dan warna-warni mutakhir. Penggunaannya pun semakin friendly user, tidak berkedip, tetapi berbisik. Bisikan cinta yang bisa di setting sedemikian rupa, termasuk menggunakan suara artis favorit kalian.

Malah cintanometer oleh sebagian besar penduduk kota di usulkan agar ditetapkan sebagai penemuan terbaik sepanjang abad ini. Melihat situasi yang sedang berkembang dalam masyarakat, sepertinya wacana itu akan benar-benar menjadi kenyataan. Masalahnya di tengah-tengah kegembiraan tetua kota, dan leganya perasaan anak-anak muda, ada sesuatu yang tanpa disadari pelahan-lahan merubah kehidupan kota itu.

Alat itu bagi sebagian orang ternyata dari hari ke hari secara pasti membuat kehidupan mereka menjadi sangat sistematis, terukur dan tidak menarik lagi. Tidak ada lagi seorang pemuda atau seorang gadis yang berdiri cemas menunggu di halte, berharap idaman jantungnya datang dan mereka bisa pergi satu bus, syukur-syukur bisa duduk bersebelahan. Tidak ada lagi degup jantung penasaran saat seorang pemuda menyatakan cintanya, menyajak puisi-puisi, menggenggam tangan sang kekasih. Tidak ada lagi lipatan suratsurat yang secara sembunyi-sembunyi dititipkan atau diselipkan di lemari sekolah, sekuntum bunga mawar yang dikaitkan di pintu rumah, atau seorang pemuda yang memetik gitar bernyanyi keras-keras di halaman rumah gadis idamannya.

Semakin lama, malah tidak ada lagi cokelat berbentuk jantung sebagai hadiah penanda cinta, tidak ada lagi balon-balon merah itu, tidak ada lagi cupid si peri cinta. Tidak ada lagi syair-syair kerinduan, soneta pujaan hati, tidak ada lagi irama ratapan kesendirian. Penduduk kota ini tidak memerlukan itu semua. Cinta pelahan-lahan namun pasti telah berubah menjadi barang instan.

Jika cintanometer berkedip-kedip itu artinya cinta. Jika tidak berkedip-kedip maka tidak ada cinta. Lama-lama penduduk kota mulai lupa apa itu cinta, bagaimana sesungguhnya perasaan seseorang saat jatuh cinta? Mereka hanya mengerti soal kedip dan tidak mengedip. Bisik atau tidak berbisik. Lama-lama mereka malah kehilangan kosa kata cinta? Siapa lagi yang perlu kata cinta jika kau bisa menterjemahkannya dengan mudah melalui sebuah alat mungil yang canggih? Berbisik berarti oke, tidak berbisik cari yang lain. Sesederhana itu.

Maka kata cinta dihapuskan dari kamus besar bahasa kota kami, karena tak ada lagi yang mengerti apa maksudnya. Berikut kata-kata yang menyerupai dan menyertainya. Kalian tak akan lagi menemukan kata: kasih, sayang, rindu, bertepuk sebelah tangan, pungguk merindukan bulan, bujang tua, jomblo dan kata-kata lainnya.

Dan ketika aku sempat berkunjung ke kota itu minggu lalu. Dalam ramainya ruang pesta di balai kota, aku tersenyum bersalaman dengan penduduk kota. Berkata mengenalkan diri, “Namaku Jun. Aku pengelana hati. Datang dari jauh mencari cinta. Adakah gadis rupawan di kota ini yang masih sendiri dan mau menghabiskan sisa hidup bersamaku?” mereka menatapku aneh sekali.

Seperti kalian sedang menatap mahkluk dari galaksi lain.

***
Baca selengkapnya »